www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan bebas dari dosa?

Jawaban:
Amsal 20:9 menanyakan pertanyaan "Siapakah dapat berkata: ‘Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?’" Kita semua bisa mengidentifikasikan diri dengan hal ini. Kalau kita jujur pada diri sendiri, kita tahu kita masih berbuat dosa. Jadi mengapa Roma 6:18 mengatakan, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran”? Apakah ini sebuah kontradiksi?

Dosa dapat didefinisikan sebagai setiap pemikiran, tindakan, atau sikap yang tidak sesuai dengan “kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Dosa mempunyai banyak lapisan. Ada tindakan atau pemikiran tertentu yang berdosa. Pembunuhan, perzinahan, dan pencurian adalah dosa (Keluaran 20:1–17). Bahkan keinginan untuk membunuh, berzina, dan mencuri adalah dosa (Matius 5:21, 28). Namun dosa lebih dalam dari itu. Kita melakukan dosa karena kita adalah orang berdosa. Sejak Adam pertama kali berdosa di Taman Eden (Kejadian 2:17; 3:17–19), setiap orang yang dilahirkan mewarisi sifat dosa darinya (Mazmur 51:5; Roma 3:23; 5:12). Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain berbuat dosa karena sudah menjadi sifat kita untuk berbuat demikian. Seekor burung tidak harus diajari cara membuat sarang dan menjaga telurnya tetap hangat. Sudah menjadi sifatnya untuk melakukan itu. Seorang anak tidak harus diajarkan untuk menjadi egois dan menuntut. Itu terjadi secara alami.

Namun, kita tidak diciptakan untuk menjadi berdosa. Kita dirancang oleh Allah menurut gambar-Nya (Kejadian 1:27). Kemanusiaan adalah mahakarya-Nya (Efesus 2:10; Mazmur 8:4–6). Kita dirancang untuk hidup dalam persekutuan dengan Pencipta kita. Namun karena dosa, kita tidak bisa masuk ke hadirat-Nya (Habakuk 1:13). Ketika Yesus mati di kayu salib, Dia menanggung segala dosa dunia (2 Korintus 5:21; 1 Yohanes 2:2). Dengan menanggung hukuman atas dosa kita, Dia menghapuskan hutang kita kepada Tuhan (Kolose 2:14). Dia juga membalikkan kutukan dari sifat lama kita, yang membuat kita diperbudak oleh nafsu dan keinginan yang berdosa (Galatia 3:10, 13). Sebelum seseorang bertemu Kristus, dia diperbudak oleh sifat dosanya (Roma 7:25; 2 Petrus 2:19). Pada saat pertobatan, kita diberikan sifat baru yang sudah terbebas dari dosa (Roma 6:18; 8:2). Seluruh pasal Roma 6 menjelaskan hal ini secara rinci. Ayat 14 mengatakan, “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.”

Terbebas dari dosa berarti mereka yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan atas hidupnya tidak lagi diperbudak dosa. Kita mempunyai kuasa, melalui Roh Kudus, untuk hidup dalam kemenangan atas dosa (1 Korintus 15:56–67; Roma 8:37). Sama seperti dulu kita mengikuti keinginan daging, kita yang “di dalam Kristus Yesus” sekarang mengikuti Roh Kudus (Roma 8:14; Galatia 5:24). Karena kita hidup di dunia yang sudah berdosa dan masih merupakan makhluk daging, kita masih akan berbuat dosa (1 Yohanes 1:9; 2:1; Roma 7:21–22). Namun kita yang mengikuti Kristus tidak menjadikan dosa sebagai pilihan kebiasaan hidup (1 Yohanes 2:1–6; 3:6–10; Roma 6:2).

Mereka yang telah dilahirkan kembali (Yohanes 3:3) telah menerima sifat baru. Sifat lama menarik kita ke arah kesenangan diri sendiri, sedangkan sifat baru menarik kita ke arah kekudusan (2 Korintus 5:17). Terbebas dari dosa berarti ia tidak lagi mempunyai kuasa seperti dulu. Cengkeraman egoisme, keserakahan, dan nafsu telah dipatahkan. Kemerdekaan dari dosa memungkinkan kita untuk menawarkan diri kita secara rela sebagai budak Tuhan Yesus Kristus, Dia yang terus bekerja di dalam kita untuk menjadikan kita semakin serupa dengan Dia (Roma 6:18; 8:29; Filipi 2:13).

© Copyright Got Questions Ministries