www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Apa itu amilenialisme?

Jawaban:
Amilenialisme itu adalah istilah yang diberikan kepada paham yang menyatakan bahwa tidak akan ada pemerintahan Kristus selama 1.000 tahun secara harafiah. Orang-orang yang menganut kepercayaan ini disebut amilenialis.

Awalan “a” dalam amilenialis berarti “bukan” atau “tidak.” Karena itu, amilenialis berarti “tidak ada milenium.” Hal ini berbeda dari pandangan, yang paling banyak diterima orang, yang disebut premilenialisme (pandangan bahwa kedatangan Kristus yang kedua kalinya akan terjadi sebelum kerajaan seribu tahun/milenial, dan kerajaan seribu tahun itu adalah pemerintahan selama 1.000 tahun secara harafiah)

Ia juga berbeda dari pandangan, yang tidak lazim diterima, yang disebut postmilenialisme (kepercayaan bahwa Kristus akan kembali setelah orang-orang Kristen, bukan Kristus sendiri, mendirikan kerajaan di atas bumi).

Ada masalah-masalah mendasar dengan pandangan postmilenial, bahwa pandangan ini tidak mendapat dukungan Alkitab, dengan menggunakan metode penafsiran yang seharusnya.

Para penganut amilenialis itu bukannya percaya bahwa sama sekali tidak ada kerajaan seribu tahun. Mereka hanya tidak percaya kerajaan seribu tahun secara harafiah – pemerintahan Kristus selama 1.000 tahun di atas bumi.

Sebaliknya, mereka percaya bahwa saat ini Kristus, sementara duduk di atas tahta Daud, dan zaman Gereja saat ini sudah dianggap kerajaan di bawah pemerintahan Kristus.

Tidak diragukan bahwa saat ini Kristus memang duduk di atas tahta, namun ini tidak berarti bahwa inilah yang dimaksud Alkitab sebagai tahta Daud.

Tidak diragukan bahwa Kristus saat ini memerintah, karena Dia adalah Allah. Namun, tidak berarti Dia sekarang sedang memerintah kerajaan seribu tahun.

Supaya Allah tetap memelihara janji-Nya kepada Israel dan perjanjian-Nya dengan Daud (2 Samuel 7:8-16; 23:5; Mazmur 89:3-4), harus ada kerajaan yang harafiah, yang hadir secara fisik di bumi ini. Meragukan hal ini sama saja mempertanyakan kehendak dan/atau kemampuan Allah memelihara janji-janji-Nya. Apalagi, hal ini akan membuka berbagai persoalan teologi lainnya.

Misalnya, kalau Allah membatalkan janji-Nya kepada Israel, setelah menjanjikan bahwa mereka akan ada untuk “selama-lamanya,” bagaimana kita dapat percaya pada apapun yang dijanjikan-Nya, termasuk janji keselamatan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus?

Satu-satunya solusi hanyalah menerima Firman-Nya dan mengerti bahwa janji-janji-Nya akan dipenuhi secara harafiah.

Indikasi-indikasi jelas dalam Alkitab bahwa kerajaan itu merupakan kerajaan di atas bumi secara harafiah adalah:

1) Kaki Kristus betul-betul menyentuh Bukit Zaitun sebelum berdirinya kerajaan-Nya (Zakariah 14:4, 9);
2) Selama kerajaan, Mesias akan menjalankan keadilan dan penghakiman atas bumi (Yeremia 23:5-8);
3) Kerajaan itu digambarkan sebagai di bawah LANGIT (Daniel 7:13-14, 27).
4) Para nabi telah menubuatkan perubahan dramatis di atas bumi selama kerajaan itu (Kisah Rasul 3:21; Yesaya 35:1-2; 11:6-9; 29-18; 65:20-22; Yehezkiel 47:1-12; Amos 9:11-15); dan
5) Urutan kronologis dari peristiwa-peristiwa dalam Wahyu mengindikasikan adanya kerajaan bumi sebelum berakhirnya sejarah dunia (Wahyu 20).

Pandangan amilenial itu merupakan hasil penggunaan metode penafsiran untuk nubuat yang belum digenapi dan metode lainnya untuk ayat-ayat bukan nubuatan dan nubuat yang digenapi.

Ayat-ayat bukan nubuatan dan nubuat yang digenapi ditafsirkan secara harafiah atau seharusnya. Namun, menurut penganut amilenial, nubuat yang belum digenapi harus ditafsirkan secara rohani, atau bukan harafiah.

Mereka yang menganut amilenialisme percaya bahwa pembacaan secara “rohani” terhadap nubuat yang belum digenapi itulah pembacaan yang seharusnya untuk ayat-ayat itu. Ini yang disebut hermeneutika berganda.

Hermeneutika itu merupakan kajian terhadap prinsip-prinsip penafsiran. Kaum amilenialis menganggap bahwa kebanyakan ayat di Alkitab bersifat simbolis, figuratif dan rohani. Karena itu, kaum amilenialis memberikan makna yang berbeda kepada bagian-bagian Alkitab itu dan bukannya makna yang seharusnya dan sesuai konteks dari kata-kata tersebut.

Jika penafsiran nubuat yang belum tergenapi dengan cara ini berakibat timbulnya penafsiran berbagai macam arti. Kecuali kalau Saudara menafsirkan Alkitab dengan menggunakan makna yang seharusnya untuk penafsiran bahasa tulisan, maka otomatis akan timbul beragam makna.

Namun Allah, sang Penulis Utama, hanya memiliki satu hal dalam pikiran-Nya ketika mengilhami para manusia penulis untuk menulis. Walaupun banyak aplikasi kehidupan dalam ayat-ayat Alkitab, hanya ada satu makna, dan makna itu adalah apa yang Allah maksudkan.

Lagipula, fakta bahwa nubuat-nubuat yang tergenapi itu kenyataannya memang digenapi secara harafiah menjadi alasan kuat untuk menganggap bahwa nubuat-nubuat yang belum digenapi juga akan digenapi secara harafiah.

Nubuat-nubuat mengenai kedatangan Kristus yang pertama kalinya dipenuhi secara harafiah. Karena itu, nubuat-nubuat mengenai kedatangan Kristus yang kedua kalinya juga seharusnya digenapi secara harafiah.

Karena itu, penafsiran alegoris untuk nubuat-nubuat yang belum terpenuhi harus ditolak. Penafsiran secara harafiah atau yang seharusnya untuk nubuat yang belum dipenuhi inilah yang harus dipakai.