www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Benarkah Allah itu ada? Apakah bukti keberadaan Allah?

Jawaban:
Apakah Allah itu ada? Saya merasa tertarik melihat begitu banyak perhatian yang diberikan kepada perdebatan ini.

Survei terbaru menyatakan sebagian besar masyarakat dunia percaya akan keberadaan Allah atau kuasa lain sejenisnya. Namun demikian, tanggung jawab membuktikan keberadaan Allah malah dilemparkan pada orang yang percaya bahwa Allah itu ada.

Menurut saya seharusnya terbalik.

Namun demikian, keberadaan Allah tidak dapat dibuktikan atau disangkal. Alkitab bahkan mengatakan bahwa kita harus menerima keberadaan Allah dengan iman. “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibrani 11:6).

Jika Allah menghendaki, Dia bisa muncul begitu saja dan membuktikan pada seluruh dunia bahwa Dia ada. Namun jika Dia melakukan hal itu, maka tidak diperlukan iman lagi. “Kata Yesus kepadanya: `Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya’" (Yohanes 20:29).

Tidak berarti bahwa tidak ada bukti keberadaan Allah. Alkitab menyatakan “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi” (Mazmur 19:1-4).

Saat memandang bintang-bintang, kala memahami luasnya alam semesta, ketika mengamati keajaiban alam dan menikmati keindahan matahari terbenam – semua ini merujuk pada karya Allah sang Pencipta.

Jika semua itu masih belum cukup, di dalam hati kita bisa ditemukan bukti keberadaan Allah. Pengkhotbah 3:11 menyatakan “bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.

Jauh di dalam diri kita ada suatu pengenalan bahwa ada sesuatu yang melampaui hidup dan dunia ini. Kita mungkin saja memakai logika menolak pengakuan ini, namun kehadiran Allah di dalam diri kita dan melalui diri kita akan terus menerus ada.

Sekalipun demikian, Alkitab memperingatkan bahwa beberapa orang akan terus menyangkal keberadaan Allah, “Orang bebal berkata dalam hatinya: `Tidak ada Allah’." (Mazmur 14:1).

Sebagian besar manusia dalam sejarah, dalam semua kebudayaan dan peradaban, di semua benua, percaya kepada adanya konsep semacam Allah. Pastilah ada sesuatu (atau seseorang) yang menyebabkan timbulnya kepercayaan semacam ini.

Selain argumentasi Alkitab mengenai keberadaan Allah, ada pula argumentasi logis yang bisa menjelaskan keberadaan Allah. Yang pertama adalah argumentasi ontologis. Bentuk argumentasi ontologis yang paling populer pada dasarnya menggunakan konsep ke-Tuhan-an untuk membuktikan keberadaan Allah.

Hal ini dimulai dengan mendefinisikan Allah sebagai, “sesuatu yang paling besar yang dapat dipikirkan.” Dinyatakan bahwa “ada” itu lebih besar dari “tidak ada”; karena itu keberadaan yang “paling besar” haruslah “ada”. Kalau Allah tidak ada, maka Allah bukanlah keberadaan terbesar yang dapat dipikirkan – namun hal ini akan berlawanan dengan definisi mengenai Allah.

Argumentasi logis kedua adalah argumentasi teleologis. Argumentasi teleologis menyatakan karena alam semesta mempertunjukkan desain yang begitu luar biasa, pastilah ada seorang desainer Illahi.

Contohnya, kalau saja bumi lebih dekat atau lebih jauh beberapa ratus mil dari matahari, bumi tidak akan mampu mendukung kehidupan seperti yang ada saat ini.

Jika unsur-unsur alam di atmosfir kita berbeda beberapa persen saja dari apa yang ada, semua mahluk hidup di atas bumi ini akan binasa.

Kemungkinan untuk sebuah molekul protein terbentuk secara kebetulan adalah 1 berbanding 10243. Sementara, sebuah sel terdiri dari jutaan molekul protein.

Argumentasi logis ketiga mengenai keberadaan Allah disebut argumentasi kosmologis. Setiap akibat pasti ada penyebabnya. Alam semesta dan segala isinya adalah akibat atau hasil.

Pastilah ada sesuatu yang mengakibatkan segalanya ada. Pada akhirnya, haruslah ada sesuatu yang “tidak disebabkan” yang mengakibatkan segala sesuatu “ada”. Sesuatu yang “tidak disebabkan” itu adalah Allah.

Argumentasi keempat dikenal sebagai argumentasi moral. Setiap kebudayaan dalam sejarah selalu memiliki sejenis hukum/peraturan. Setiap orang memiliki perasaan benar dan salah. Pembunuhan, berbohong, mencuri dan imoralitas hampir selalu ditolak secara universal. Dari manakah datangnya perasaan benar dan salah ini kalau bukan dari Allah yang suci?

Sekalipun demikian, Alkitab memberitahu kita bahwa ada orang-orang yang akan tetap menolak pengetahuan yang jelas dan tak dapat disangkal mengenai Allah ini, dan lebih memilih percaya kepada kebohongan. Roma 1:25 berseru, “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.”

Alkitab juga memproklamirkan bahwa manusia tidak dapat berdalih untuk tidak percaya kepada Allah, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Roma 1:20).

Sebagian orang menolak percaya kepada Allah karena dianggap “tidak ilmiah” atau “karena tidak ada bukti.” Sebenarnya, alasan di balik penolakan ini lebih karena konsekuensi bagi seseorang yang mengaku bahwa Allah itu ada: ia harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang ia lakukan.

Kalau Allah tidak ada, maka ia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan tanpa takut kepada Allah yang akan menghakiminya.

Saya percaya inilah sebabnya mengapa begitu banyak orang dalam masyarakat kita yang berpegang teguh pada evolusi, sehingga orang-orang punya alternatif untuk tidak percaya adanya Allah Sang Pencipta.

Allah itu ada, dan pada akhirnya setiap orang tahu bahwa Allah ada.

Bahkan, fakta bahwa ada orang yang begitu gigihnya berusaha menolak keberadaan Allah pada dasarnya adalah merupakan bukti keberadaanNya itu sendiri.

Izinkan saya untuk memberikan argumentasi terakhir mengenai keberadaan Allah. Bagaimana saya bisa tahu bahwa Allah ada?

Saya tahu Allah ada, karena saya berbicara kepadaNya setiap hari. Saya tidak mendengar suaraNya berbicara kepada saya, namun saya merasakan kehadiranNya, saya merasakan pimpinanNya, saya mengenal kasihNya, saya merindukan anugerahNya.

Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya tidak dapat dijelaskan, selain karena itu datang dari Tuhan. Dengan cara yang begitu ajaib, Dia menyelamatkan dan mengubah hidup saya. Mau tidak mau, saya harus mengakui dan mensyukuri keberadaanNya.

Tidak ada satu pun argumentasi ini yang dengan sendirinya dapat meyakinkan seseorang yang terus menolak mengakui sesuatu yang sudah begitu jelas.

Pada akhirnya, keberadaan Allah harus diterima melalui iman (Ibrani 11:6).

Iman kepada Allah bukanlah iman yang buta, namun lebih mengenai usaha melangkah dengan aman ke dalam ruangan yang terang di mana sebagian besar orang sudah menanti.