www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Mengapa penting untuk percaya bahwa Alkitab itu tanpa kekeliruan di dalamnya?

Jawaban:
Kita hidup dalam zaman yang cenderung tidak peduli ketika berhadapan dengan kekeliruan. Bukannya bertanya seperti Pilatus, “Apakah kebenaran itu?” manusia post-modern mengatakan, “Tidak ada kebenaran” atau “Kebenaran itu ada, namun kita tidak dapat mengetahuinya.” Kita sudah terbiasa ditipu, dan banyak orang kelihatannya bisa menerima bahwa Alkitab juga mengandung kekeliruan.

Doktrin tidak adanya kekeliruan di dalam Alkitab amatlah penting karena kebenaran itu penting adanya. Hal ini mencerminkan karakter Allah dan merupakan dasar dari pemahaman kita akan segala sesuatu yang diajarkan Alkitab.

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa mutlak bagi kita untuk percaya bahwa Alkitab tanpa salah.

1. Alkitab sendiri mengaku sempurna. “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah” (Mazmur 12:7).

“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman” (Mazmur 19:8).

Semua klaim ini bersifat mutlak. Perhatikan bahwa tidak dikatakan bahwa “Firman Allah pada umumnya murni” atau “Alkitab hampir sempurna.” Alkitab mengaku kalau ia sempurna, dan sama sekali tidak ada tempat untuk teori-teori yang cuma “benar sebagian.”

2. Alkitab bertahan atau hancur secara keseluruhan. Kalau sebuah surat kabar besar terus menerus ditemukan mengandung kekeliruan, surat kabar tersebut secara cepat akan kehilangan kredibilitasnya. Tidak ada gunanya mengatakan bahwa “Semua kekeliruan hanya terjadi pada halaman 3.”

Supaya satu koran bisa dipercaya dalam hal-hal kecil, koran itu harus benar dalam segala hal. Demikian pula halnya dengan Alkitab. Kalau Alkitab tidak akurat ketika berbicara soal geologi, mengapa teologinya harus dipercaya?

Alkitab dapat dipercaya secara keseluruhan atau sama sekali tidak dapat dipercaya.

3. Alkitab adalah cerminan dari Penulisnya. Semua buku itu demikian adanya. Alkitab ditulis oleh Allah sendiri ketika Dia bekerja melalui manusia sebagai penulis dalam suatu proses yang dinamakan “pengilhaman.”

2 Timotius 3:16 mengatakan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah (secara harafiah: “dinafaskan Allah.” Lihat pula 2 Petrus 1:21 dan Yeremia 1:2.

Kita percaya bahwa Allah yang telah menciptakan alam semesta mampu menulis sebuah kitab. Allah yang sempurna tentu mampu menulis kitab yang sempurna. Permasalahannya bukan sekedar “Apakah Alkitab mengandung kekeliruan?” namun “Dapatkah Allah berbuat salah?”

Kalau Alkitab mengandung fakta-fakta yang keliru, maka Allah bukan Maha Tahu, karena Dia sendiri dapat berbuat salah.

Kalau Alkitab mengandung informasi yang keliru, maka Allah tidak jujur dan hanyalah seorang penipu.

Kalau Alkitab mengandung kontradiksi, maka Allah adalah penyebab kebingungan.

Dengan kata lain kalau doktrin tidak adanya kekeliruan di dalam Alkitab bukan kebenaran, maka Allah bukanlah Allah.

4. Alkitab menilai kita, bukan sebaliknya. “ Sebab firman Allah … sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12).

Perhatikan pertalian antara “hati” dan “Firman.” Firman Allah menguji, hati adalah yang diuji. Mengabaikan sebagian Firman, untuk alasan apapun, sudah termasuk memutarbalikkan Firman ini.

Kita menjadi penguji, dan Firman harus tunduk kepada “wawasan kita yang lebih tinggi.” Namun Allah mengatakan, “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? (Roma 9:20).

5. Berita Alkitab harus dilihat secara keseluruhan. Alkitab bukanlah kumpulan doktrin yang kita bisa pilih sesuka hati. Banyak orang suka kepada ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah mengasihi mereka, namun mereka tidak menyukai ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah akan menghakimi orang-orang berdosa.

Namun kita tidak bisa begitu saja memilih apa yang kita sukai dari Alkitab dan membuang sisanya. Kalau Alkitab salah mengenai neraka misalnya, maka bagaimana ia bisa benar mengenai surga – atau soal lainnya?

Kalau Alkitab salah dalam hal detail mengenai penciptaan, maka ada kemungkinan detail mengenai keselamatan juga tidak dapat dipercayai.

Kalau cerita mengenai Yunus adalah mitos, maka kemungkinan cerita tentang Yesus juga demikian. Sebaliknya, Yesus telah mengatakan apa yang Dia katakan, dan Alkitab memberi kita gambaran penuh mengenai siapakah Allah itu. “ Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga” (Mazmur 119:89).

6. Alkitab adalah satu-satunya peraturan untuk iman dan perbuatan kita. Kalau Alkitab tidak dapat diandalkan, lalu apa yang seharusnya menjadi dasar kepercayaan kita?

Yesus meminta kepercayaan kita, dan itu termasuk percaya pada apa yang disabdakanNya dalam FirmanNya. Yohanes 6:68-69 adalah bagian Alkitab yang indah.

Yesus baru saja menyaksikan banyak orang yang mengaku mengikuti Dia meninggalkan Dia. Kemudian Dia berbalik kepada keduabelas Rasul dan bertanya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Petrus mewakili yang lain menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.”

Kiranya kita memiliki kepercayaan yang sama terhadap Tuhan dan FirmanNya yang hidup.

Tidak satupun hal yang kami kemukakan di sini merupakan penolakan terhadap sikap kritis yang sejati. Doktrin tidak adanya kekeliruan di dalam Alkitab tidak berarti bahwa kita berhenti menggunakan pikiran kita atau menerima secara membabi buta apa yang dikatakan Alkitab.

Kita diperintahkan untuk mempelajari Firman (2 Timotius 2:15), dan mereka yang mempelajarinya dipuji (Kisah 17:11). Kami mengakui bahwa ada bagian-bagian yang sulit dipahami dalam Alkitab, dan juga ada perbedaan dalam penafsiran Alkitab.

Sikap kita terhadap Alkitab haruslah dilandasi sikap hormat dan doa. Ketika kita menemukan sesuatu yang sulit dipahami, kita bisa berdoa lebih tekun, mempelajari dengan lebih sungguh-sungguh, dan –jika masih tidak mendapatkan jawabannya – dengan rendah hati kita hanya bisa mengakui keterbatasan kita di hadapan Firman Allah yang sempurna.